Penulis
: Darwis
Judul : Membangun
Paradigma Madrasah Unggulan
Jurnal : Dinamika Ilmu
(Jurnal Kependidikan)
Vol. : V No.
1 Juni 2005
Hal.
57-67
MEMBANGUN PARADIGMA MADRASAH UNGGULAN
(Tinjauan
Reduksionisme Keberadaan Madrasah)
Darwis*
Abstract: while discussing the issue of islamic education, it always
refers to madrasah. However, it is very unfortunate to see the feature
of madrasah which generally is considered to remain low either the
quality of its management, output, and teacher. This can be seen from the
output of madrasah to compete to get job. The madrasah graduation
seems too difficult to enter formal employment. There are some reasons that
lead to that condition, including: there is no maximise participation of
society toward the existence of madrasah, the school curriculum which is
not adaptable to environment, and also the islamic values is less to be taught
to student in classroom. Meanwhile, in the outside world, there is tremendous
development on science and technology. In order to develop an
excellent/pre-eminent madrasah, it needs to re-formulate madrasah,
such as increasing people/society participation, reform the curriculum to be
more appropriate to the needs of muslim society, lastly, the values that is
thought in madrasah have to be sourced from islamic teachings.
PENDAHULUAN
Dalam rangka pengembangan ilmu dan pencapaian
cita-cita suatu bangsa, maka institusi yang memiliki peran penting adalah
institusi pendidikan baik negeri maupun swasta, umum atau yang berciri khas
agama islam termasuk dalam hal ini madrasah. Madrasah sebagai lembaga
pendidikan islam, seharusnya memiliki misi yang jelas bagaimana mempertahankan,
mengembangkan, mengaktualisasikan ajaran islam. Kaitannya dengan
madrasah,menurut Fazlur Rahman bahwa diantara yang menyebabkan kemunduran ilmu
pengetahuan umat islam adalah karena kekeringan dan jauhnya umat islam dari
hakekat ilmu-ilmu keagamaan yang pada dasarnya memberi peluang selebar-lebarnya
terhadap fungsi akal dan rasio, munculnya larangan ulama pada zaman pertengahan
dalam mencari ilmu yang tidak langsungberhubungan dengan amal dan pemahaman
masyarakat islam terhadap hakekat ilmu yang dianggap sesuatu yang dicari dan
dibangun secara sistematis oleh akal pikiran manusia sendiri.
Kegelisahan yang muncul ketika sekolah islam gagal mencetak
kader aktivis islam, mencerminkan konsep fungsi dan kurikulum yang tidak jelas
model pembelajarannya tidak mendorong anak didik dari keluarga bukan
santri, menjadi aktivis gerakan selama masa pendidikan. Pembelajarannya tidak
beda dari sekolah umumnya. Sejumlah bidang studi umum, berbeda dan saling
bertentangan dengan ilmu ke-islam-an. Penambahan jumlah jam bidang studi
ke-islam-an bukanlah jawaban cerdas.
Untuk menata kembali aspek-aspek pembelajaran yang telah
lama tidak dituangkan dalam pembelajaran, perlu kiranyapemahaman dan kajian
secara mendalam dan integral tahap demi tahap. “ Disamping itu, reformasi
pendidikan harus meberikan peluang (room for manoeuvre) bagi siapapun
yang aktif dalam pendidkan untuk mengembangkan langkah-langkah baru yang
memungkinkan terjadinya peningkatan mutu pendidikan.” Kelemahan yang terjadi
dalm pembelajaran di madrasah selama ini adalah para tenaga pendidk kurang
mengembangkan intern thinking and learning experience student.
Seharusnya semakin banyak lembaga islam yang merdiri, maka semakin banyak pula
tokoh islam yang memperjuangkan nilai-nilai keislaman diberbagai aspek
kehidupan.
PARTISIPASI
MASYARAKAT
Dalam rangka menjadi lembaga pendidikan islam unggulan, maka madrasah dalam
melakukan seluruh kegiatannya tetap memberdayakan dan mengoptimalkan
partisipasi masyarakat. Keterbatsan masyarakat akan berakibat pada kurangnya
kepercayaan masyarakat terhadap madrasah. Bentuk-bentuk kepercayaan yang
dimaksut dapat berupa partisipasi masyarakat dalam memobilisasi sumber-sumber
dana yang tersedia pada orang tua dan masyarakat, sementara dukungan pemerintah
terhadap lembaga pendidikan berkurang, apalagi madrasah yang pengelolaannya
berda di bawah departemen Agam, bukan di bawah pemerintah provinsi atau
pemerintah kabupaten dan kota.
Menurut pendapat Don Adam yang dikutip oleh Suyata, beberapa aspek tentang mutu
sekolah (madrasah) dengan mengidentifikasi: “1) reputasi, 2) sumber-sumber dan
masukan, 3) proses, 4) isi, 5) keluaran dan hasil, dan 6) nilai tambah (value
added).” Sekolah bermutu dan sekaligus berdampak dapat dilihat dari
kemampuannya menghadirkan perubahan di dalam diri siswa apakah itu pengetahuan,
sikap, penampilannya atau keseluruhannya.
PROSES
BELAJAR MENGAJAR
Untuk menciptakan suasana yang kondusif dan kompetitif, maka madrasah perlu
melakukan pembaruan mendasar seperti memperkenalkan penetapan sekolah-sekolah
unggulan atau kelas-kelas unggulan, disamping usaha-usaha pembenahan hal-hal
terkait mutu lainnya. Faktor-faktir kunci menciptakan sekolah bermutu adalah
mengembangkan wawasan madrasah yang bermutu adalah siswa, guru, kepala sekolah,
dan pengawas plus orang tua.
Selain itu, pemberian kesempatan kepada pelaku pendidikan seperti: guru dan
anak didik untuk secara bersama-sama maupun pribadi mengembangkan kemempuan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat membantu percepatan
pertumbuhan karakteristik anak didik. Pembelajaran dari teachers center
menjadi students center kiranya menjadi pertimbangan untuk dilakukan.
Sistem pembelajaran dapat dibentuk dengan pembelajaran murid yang biasa
menunggu, menerima dan memperoleh materi pelajaran sebanyak-banyaknya menjadi
aktif mencari dan menguasai metodologi berpikir yang kuat dan konstruktif.
Kelemahan sistem pendidikan madrasah pada dasarnya sama dengan kelemahan umum
yang disandang oleh sistem pendidikan di Indonesia, yakni: 1) mementingkan
materi di atas metodologi; 2) mementingkan memori di atas analisis dan dialog;
3) memntingkan pikiran vertikal/linier di atas lateral; 4) mementingkan
penguatan pada “otak kiri” di atas “otak kanan”; 5) materi pelajaran agama yang
diberikan masih bersifat tradisional, belum menyentuh aspek rasional; 6)
penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses
metodologinya; dan 7) mementingkan orientasi “memiliki” di atas “menjadi”.
MANAJEMEN
PENGELOLAAN MADRASAH
Manajemen pengelolaan madrasah merupakan suatu kebutuhan penting yang harus
ada. Mustahil madrasah dapat dikembangkan dengan baik tanpa manajemen yang baik.
Semua tugas akan memiliki makna dan berfungsi, apabila memiliki peran dan dan
tanggung jawab yang pasti dapat dilakukan. Dengan tanggung jawab ini , secara
bertahap dapat dilakukan madrasah berwawasan keunggulan dengan visi dan misi
bermacam-macam, bergantung pada pemikiran dasar dan sistem nilai yang dianut
serta konsep-konsep lain yang dikaitkannya seperti pemerataan(equity),
efisiensi, efektivitas, dan produktivitas. Perbedaan ini akan membawa
konsekuensi kebijakan, perencanaan dan sistem alokasi sumber-sumber. Untuk
mengembangkan berbagai kebijakan tersebut, ada dua kubu melihat mutu berwawasan
keunggulan adalah “(1) elitisme dan (2) developmental. Paham pertama melihat
pentingnya faktor-faktor individual seperti kemampuan perseorangan dan motivasi.
Sementara yang kedua menekankan pentingnya perbaikan keseluruhan dengan
pendekatan perbaikan struktural. Untuk sekolah negeri, pilihan posisi kedua,
developmental dengan perbaikan struktural nampaknya lebih disarankan”. Di dalam
konteks nasional, sekolah paling tidak mengemban empat fungsi utama yaitu
menyatukan bangsa, membentuk warga negara yang baik, menyiapkan pemimpin untuk
segala bidang kehidupan, dan mengembangkan pribadi serta segera menyusul
menyiapkan warga dunia/global. Singkatnya, pendidikan, terutama lewat
persekolahan, menyiapkan peserta didik memasuki peranan mereka di masa
mendatang.
REPOSISI
KURIKULUM
Madrasah yang dibentuk tidak perlu dirubah sesuai dengan pergantian zaman dan
kepemimpinannya, akan tetapi batasan dan ruang lingkup materi ajar yang harus
mendapat perhatian secara serius, menjadi bahan pertimbangan untuk diajarkan
pada anak didik. Tentu saja agar madrasah tetap mampu mengambil fungsi majemuk
di tengah arah perubahan masyarakat. Selain itu perlu ada kebijakan-kebijakan
baru dalam menata ulang materi yang diajarkan, termasuk strategi baru dan
dukungan sarana yang memadai.
Untuk dapat mengembangkan madrasah yang berkualitas perlu ditinjau ulang
kurikulum madrasah yang ada selama ini, apakah sudah dapat menjawab
persoalan-persoalan keagamaan masyarakat Indonesia dan global pada umumnya.
Pergantian kurikulum lama denagn kurikulum baru tidak dapat diterapkan secara
cepat, hal tersebut disebabkan penguasaan materi kurikulum bagi guru,
penyediaan bahan ajar yang akan dikuasai anak didik, sangat perlu
dipertimbangkan secara matang. Oleh karena itu penyesuaian penggunaan
kkurikulum baru dan meninggalkan kurikulum lama akan seringkali menimbulkan
masalah. Oleh karena itu, “perlu perangkat-perangkat dan visi baru untuk
menyesuaikan diri dengan perangkat kurikulum baru itu. Hal ini tentu saja
merupakan keresahan mendalam bagi madrasah-madrasah, terutama yang swasta.”
Pelaksanaan suatu kurikulum menuju kepada keberhasilan lembaga ditunajng oleh
hal-hal sebagai berikut:
1. Tersedia tenaga pengajar (guru) yang
kompeten.
2. Tersedianya fasilitas fisik atau
fasilitas belajar yang memadai dan menyenangkan.
3. Tersedia fasilitas bantu untuk
proses belajar-mengajar.
4. Adanya tenaga penunjang pendidikan
seperti tenaga-tenaga administrasi, pembimbing, pustakawan, dan laboran.
5. Tersedia dana yang memadai.
6. Manajemen yang efisien.
7. Terpelihara budaya yang menunjang,
seperti misalnya konsep wawasan wiyatamandala.
8. Kepemimpinan pendidikan.
Penggunaan kurikulum di kalangan madrasah lama dan memiliki
ciri khas tersendiri,
“...madrasah masih dapat konsisten dengan titik tekan
disiplin ilmunya. Walaupun dipandang dari sudut prestasi mengalami penurunan,
terutama dari segi positif sebagai lembaga yang dapat memproduk ulama dan kiai
(ahli agama). Gambaran di atas memperlihatkan bahwa madrasah mampu menunjukkan
daya adaptasi untuk menyerap unsur-unsur inovasi. Lebih dari itu, madrasah
memiliki daya tangkap terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat sekelilingnya.”
PENGEMBANGAN
NILAI
Misi utama keberadaan madrasah adalah untuk mempertahankan dan mengembangkan
ajaran islam. Oleh karena itu, lembaga madrasah yang melahirkan ciri khas
tersebut mengandung unsur-unsur:
1. Perwujudan nilai-nilai keislaman di
dalam keseluruhan kehidupan lembaga madrasah.
2. kehidupan moral yang beraktualisasi.
3. manajemen yang profesional, terbuka
dan berperan aktif dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang harus diperjuangkan oleh seluruh elemen
pendidikan adalah agar semua anak didik dapat diarahkan menjadi dewasa,
bertanggung jawab, memiliki kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Kemampuan
ini dapat diberikan kepada siswa, guru, masyarakat, apabila model madrasah
memiliki tipe sekolah/madrasah yang tinggi dalam berbagai aspek.
Tipe
model sekolah
Tipe
Sekolah
|
Syarat
1:
Pemilihan
Kepsek
dan
Guru
|
Syarat
2:
Bentuk
Partisipasi
masyarakat
|
Syarat
3:
Lokasi/kemam-
puan
daerah dan
orang
tua
|
Syarat
4:
Kemampuan
Menghitung
dana
|
Syarat
5:
NEM
|
1.
penuh
|
Dipilih
Karena
Memiliki
ketrampilan
|
Partisipasi
Masyarakat
Besar
dan dana
|
Pendapatan
daerah
tinggi
|
Dana
tak ter-
Gantung
pada
Pemerintah,
Tapi
dari masya-
Rakat
|
Tinggi
|
2.
menengah
|
Dipilih
karena
Memiliki
ketrampilan
|
Partisipasi
Masyarakat
Besar
dan dana
|
Pendapatan
Daerah
sedang
|
Tergantung
pada
Dana
Pemerintah
|
Sedang
|
3.
minimal
|
Dipilih
karena
Memiliki
ketrampilan
|
Partisipasi
Masyarakat
kurang
|
Pendapatan
daerah
rendah
|
Sangat
Tergantung
pada
Dana
pemerintah
|
rendah
|
Manusia akan dapat menjalankan tugas kekhalifahannya secara baik jika dibekali
dengan ilmu pendidikan, tat cara belajar yang benar dan tanggung jawab. Ilmu
dan sistem balajar ini akan menjadi suatu pedoman dalam perjalanan hidup dan
penghambaannya kepada Allah.
KESIMPULAN
Setelah memperhatikan berbagai argumentasi yang telah disebutkan terdahulu,
dapat disimpulakan bahwa untuk menjadikan madrasah unggulan perlu diperhatikan:
- partisipasi masyarakat dari segi apapun.
- proses belajar mengajar memperhatikan pengembangan nilai-nilai universal agama.
- manajemen pengelolaan madrasah memiliki tipe madrasah yang tinggi.
- kurikulum yang digunakan seharusnya memperhatikan kepentingan masyarakat, dengan tidak menghilangkan substansi ajaran islam.
- medrasah memiliki visi dan misi
untuk mengembangkan nilai ajaran islam yang ditanamkan kepada diri anak
didik.
Alhamdulillah.. :)
ReplyDeletesemoga bermanfaat..